Archive | May, 2009

Kasih Ibu Tiada Tara


Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering meratapi nasibnya memikirkan anaknya yang mempunyai tabiat sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mabuk, dan melakukan tindakan-tindakan negatif lainnya. Ia selalu berdoa memohon, “Tuhan, tolong sadarkan anak yang kusayangi ini, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.” Tetapi, si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya.

Suatu hari, dia dibawa kehadapan raja untuk diadili setelah tertangkap lagi saat mencuri dan melakukan kekerasan di rumah penduduk desa. Perbuatan jahat yang telah dilakukan berkali-kali, membawanya dijatuhi hukuman pancung. Diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan di depan rakyat desa keesokan harinya, tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu membuat si ibu menangis sedih. Doa pengampunan terus dikumandangkannya sambil dengan langkah tertatih dia mendatangi raja untuk memohon anaknya jangan dihukum mati. Tapi keputusan tidak bisa dirubah! Dengan hati hancur, ibu tua kembali ke rumah.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat telah berkumpul di lapangan pancung. Sang algojo tampak bersiap dan si anak pun pasrah menyesali nasib dan menangis saat terbayang wajah ibunya yang sudah tua.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun setelah lewat lima menit dari pukul 06.00, lonceng belum berdentang. Suasana pun mulai berisik. Petugas lonceng pun kebingungan karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tibatiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Seluruh hadirin berdebar-debar menanti, apa gerangan yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul dan menggantikannya dengan kepalanya membentur di dinding lonceng.

Si ibu mengorbankan diri untuk anaknya. Malam harinya dia bersusah payah memanjat dan mengikatkan dirinya ke bandul di dalam lonceng, agar lonceng tidak pernah berdentang demi menghindari hukuman pancung anaknya.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung menyaksikan tubuh ibunya terbujur bersimbah darah. Penyesalan selalu datang terlambat.

sumberĀ  pondokbaca

Posted in Inspirasi, RenunganComments (2)

Daerah Berpeluang Gaet Bantuan Terumbu Karang


Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi meminta pemerintah daerah berkreasi untuk menciptakan kegiatan yang menyerap dana bantuan hasil Coral Triangle Initiatives yang diteken pada Konferensi Kelautan Dunia di Manado, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

“Daerah yang harus proaktif. Tinggal daerah yang mendesain apa kegiatannya,” ujar Freddy dalam evaluasi Konferensi Kelautan Dunia atau World Ocean Conference dan Inisiatif Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle Inisiative (CTI) di Jakarta, Senin (25/5).

Menurut Freddy, jika pemerintah daerah mampu menangkap peluang akan menaikkan nilai ekonomi dan tenaga kerja. Freddy mengatakan komitmen pendanaan berasal dari enam negara dan lembaga donor.

Pendonor tersebut antara lain dari Amerika Serikat sebesar US$ 1,6 juta atau Rp 16 miliar, Australia US$ 1,5 juta (Rp 15,4 miliar), Indonesia US$ 5 juta (Rp 5,15 miliar), Filipina US$ 5 juta (Rp 5,15 miliar), Malaysia US$ 1 juta (Rp 1,03 miliar), Papua Nugini US$ 2 juta (Rp 2,05 miliar), dan lembaga GEFUS $63 juta (Rp648miliar).

Freddy mengatakan masyarakat bisa membuat kegiatan dengan mengambil tema dari aktifitas tersebut. Lembaga swadaya masyarakat didorong untuk melakukan kegiatan dan diawasi oleh pemerintah. Dia mencontohkan program budidaya rumput laut dalam skala besar di Nusa Tenggara Timur.

Freddy juga mengatakan contoh kegiatan lainnya melalui pelatihan remaja menjadi penyelam sekaligus menanam batu karang, pemeliharaan laut, dan pantai. “Jika butuh perahu duitnya dari situ, anak-anak muda pengangguran juga bisa diberdayakan,” ujarnya.

Freddy mengatakan, negara-negara anggota CTI akan segera membahas sekretariat dan mekanisme pendanaan untuk aksi nasional masing-masing negara. Menurut dia, jika program ini berhasil maka akan menarik pendanaan dari Bank Dunia (World Bank) dan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank).

Sumber TempoInteraktif

Posted in Features, LingkunganComments (0)

twitter_logovb1 facebook-logo Advertise Here

Categories

THE AUTHOR

arsyadsalam1Arsyad Salam, Arsyad, pemilik blog ini adalah seorang pembual. Senang menulis meski buta kaidah SPO. Senang main musik meski buta partitur angka apalagi not balok. Pemurah, baik hati dan tidak sombong. Tinggal di Kendari Sulawesi Tenggara
wikipedia-logo-thumb
aiphp1