
Syahwat konon adalah naluri paling purba dari manusia. Perbincangan mengenai seksualitas selalu membuat geger manusia setiap kali topik mengenai hal ini di ungkap secara terbuka. Sebagai pengejawantahan seksualitas, syahwat atau apapun namanya selalu enak diperdebatkan kembali lantaran selalu ada saja hal-hal baru yang perlu diartikan ulang.
Sebagai sesuatu yang selalu jadi perbincangan hangat, apa saja yang berbau seksual utamanya bagi para kaum adam memang menarik, penuh debat, adu pendapat, caci maki. Biasanya selau berujung pada saling hujat bahkan unjuk rasa. Inilah fenomena perbincangan mengenai sejauh mana hasrat seksual yang selalu disembunyikan itu jika diangkat ke permukaan. Kita tak pernah secara terang-terangan mengakui bahwa
dalam kesadaran masing masing kita sebenarnya suka akan hal ini. Tapi untuk mengakuinya secara terbuka adalah persoalan lain.
Maka Maria Ozawa pun dihujat. Seakan akan dengan hadirnya bintang porno Jepang ini, akhlak manusia Indonesia sudah akan runtuh. Kita ibarat berada di negeri dongeng yang punya cara praktis untuk menyelesaikan soal. Sepertinya kita memang telah dinujum untuk menjadi makhluk yang paling kuat menebar fitnah, caci maki dan mengacungkan telunjuk untuk orang lain. Kita tak pernah bercermin, mengaca pada tabiat sendiri yang tidak manusiawi: menghujat Miyabi tapi diam-diam mengoleksi filmnya.
Carut marut opini tentang kedatangan Miyabi sebenarnya menunjukkan bahwa kita masih terjebak pada cara berpikir sesat yang selalu mengatasnamakan kepentingan orang banyak. Kalau Miyabi datang rusaklah moral bangsa kita. Padahal bangsa juga terdiri dari orang-orang. Pribadi pribadi yang punya pikiran sendiri. Nalar dan naluri sendiri dalam mengartikulasikan sesuatu.
Saya tak percaya kalau Miyabi datang ke Indonesia, negeri ini akan mengalami degradasi moral yang parah. Saya justru percaya kerusakan moral orang-orang tak ada hubungannya dengan pornografi, syahwat atau sejenisnya. Mental masyarakat sudah terlanjur rusak sebelum Miyabi datang ke sini. Kita masih berpikir seperti orang yang mengawasi anak-anaknya untuk tontonan atau bacaan terlarang. Mereka para orang tua ini tak pernah memberi alternatif pilihan penjelasan yang masuk akal tentang larangan itu. Pokoknya dilarang. Titik. Miyabi jangan datang. Titik.
Kita telah berada di zaman moderen. Zaman cibernetik. Tapi untuk urusan bagaimana mengelola opini tentang hasrat seksual, ada baiknya kita menengok kebelakang, di zaman Yunani kuno. Di zaman ketika segala kepentingan masyarakat bertaut, saling kait mengkait, syahwat konon termasuk urusan yang paling mengemuka. Di gimnasium dan palaestra, para pelacur berbaris rapi menunggu pembeli bersama dagangan lain yang di pajang di situ. Para pembeli yang kebanyakan adalah lelaki tinggal meneliti barang barang ini secara detail, seksama. Kalau harga dirasakan agak mencekik dompet, bisa ditawar. Kalau cocok, bayar dan bawa pulang.
**ilustrasi gambar diambil dari google






Arsyad Salam, Arsyad, pemilik blog ini adalah seorang pembual. Senang menulis meski buta kaidah SPO. Senang main musik meski buta partitur angka apalagi not balok. Pemurah, baik hati dan tidak sombong. Tinggal di Kendari Sulawesi Tenggara
November 16th, 2009 at 3:07 pm
parah nih…
kalau pemikiran seperti agan…
tinggallah menunggu azab datang.
November 17th, 2009 at 4:35 am
Jadi datang gak sih?
Penasaran gw
Kunjungi juga blog saia yang lainnya di http://rizaherbal.wordpress.com/
November 21st, 2009 at 6:32 am
Interesting and informative. But will you write about this one more?