Categorized | Features, Hobi

Road Race di Kendari, ‘Rampas’ Fasilitas Publik

KENAPA NALAR KITA TAK PERNAH JALAN?
roadrace
Sejak Road Race atau balapan motor digelar di Kota Kendari, seingat saya selalu menggunakan jalan raya sebagai arenanya. Jalan raya yang seharusnya untuk penggunaan kendaraan bermotor pada rute tertentu ditutup atas nama kontes dan adu cepat. Adu nyali. Adu suara knalpot. Saya tak kepingin mengulas soal bising dan kenekatan anak-anak kita dibalapan itu. Saya lebih memprihatinkan soal para pengguna jalan yang selalu harus berkorban, sabar dan telaten menunggu hingga jalan untuk arena road race itu di buka kembali.

Mungkin saya berlebihan atau terlalu naif. Balapan seperti ini toh telah mendapat izin dari pemerintah khususnya oleh aparat jalan raya. Tapi pernahkah mereka (para penyelenggara itu) memikirkan, apakah izin dari pemerintah identik dengan persetujuan masyarakat? Ini yang harus dijawab. Penyelenggara atau panitia mungkin mendapat izin pemerintah. Tapi seandainya para pengguna jalan ditanya satu persatu mereka pasti akan menolak keras.

Aneh memang. Secara rutin road race terus dilakukan bersamaan dengan itu jalan lagi lagi ditutup. Meski arena balap tak terlalu panjang tapi sangat merepotkan pengendara. Di jalur Tapak Kuda By Pass misalnya. Bagi pengendara yang bermukim di Anduonohu, jalur ini sangat vital lantaran tak ada alternatif lain untuk sampai ke tujuan. Alhasil, pengendara harus memutar melalui pasar baru dan melewati kampus Unhalu atau sebaliknya. Secara terang-terangan publik memang belum mengungkapkan isi hati. Tapi jangan tunggu warga kehilangan sabar dan akan sehat mereka.

Ivent ivent seperti ini mestinya menjadi pelajaran buat panitia, penyelenggara entah itu Ikatan Motor Indonesia atau siapapun juga : jika hendak membikin kejuaraan, carilah tempat tempat yang tidak mengganggu ketentraman publik seperti menuutup jalan sesuka hati. Mengapa pihak IMI tak cepat cepat mengusahakan arena khusus untuk road race supaya tak merampas hak publik untuk menggunakan jalan?

Di tahun 80-an dulu balap motor di Kendari juga sudah ada. Namanya motor cross. yang dipilih sebagai arena tepat di samping Gedung Koni, jadi tidak mengganggu pengguna jalan. Tempatnya sengaja dirancang sedemikian rupa supaya berlumpur, berbukit berliku dan penuh tantangan. Warga menonton, pengendara terus melaju. Semua tak terganggu.

Dari sekarang IMI atau siapaun yang berkompeten soal road race ini hendaklah memikirkan bagaimana cara mengusahakan arena road race sendiri yang tidak mengganggu kepentingan para pengguna jalan. Dan pemerintah atau aparat hendaklah terus membantu mengupayakan arena road race khusus bagi para maniak balap motor ini. Pengguna jalan sudah cukup memaklumi ivent seperti ini meski kadang kadang mereka juga gondok lantaran akses jalan mereka yang terganggu.

Mudah-mudahan penutupan jalan demi road race tak lagi terjadi di masa datang..

**ilustrasi foto diambil dari google

2 Comments For This Post

  1. Rama Says:

    Masa masyarakat yang harus mengalah ya…
    hihihi jangan mau kali..

  2. Mackeran Says:

    In truth, immediately i didn’t understand the essence. But after re-reading all at once became clear.

Leave a Reply

twitter_logovb1 facebook-logo Advertise Here

Categories

THE AUTHOR

arsyadsalam1Arsyad Salam, Arsyad, pemilik blog ini adalah seorang pembual. Senang menulis meski buta kaidah SPO. Senang main musik meski buta partitur angka apalagi not balok. Pemurah, baik hati dan tidak sombong. Tinggal di Kendari Sulawesi Tenggara
wikipedia-logo-thumb
aiphp1