
Saya tak pernah berpikir untuk mengejek orang Indonesia yang bermulut latah. Menggunakan kata, kalimat, ejaan tanpa menyelidiki atawa berpikir bahwa apa yang dia lakukan itu belum punya dasar penjelasan, makna dan faedahnya bagi dirinya sendiri dan terutama bagi khalayak ramai.
Entah mau gagah gagahan, sok kebarat baratan, atau hanya sekedar ikut ikutan orang lain agar terdengar lebih modern, lidah kitapun dipaksa untuk beringgris ria tanpa tahu maksud dan pembenaran dasar ucapan itu.
Saya sering bahkan mungkin terlalu sering mendengar orang mengucapkan China dengan Caina. Mungkin memang begitulah orang barat menyebut Cina. Tapi bagi kita, orang Indonesia pengucapan kata Cina menjadi Caina sebenarnya mengejek dan mengaburkan hakekat orang Cina itu sendiri. Kenapa?
Kata China (diucapkan sebagai Cina) sejatinya menunjukkan sejumlah kategori sekaligus. Dia bisa berarti sebuah negara Asia yang sudah sangat maju. Ekonomi beres. Penegakkan hukum tuntas. Pemberantasan korupsi apalagi.
Cina bisa pula berarti kumpulan atau gugusan suatu budaya yang datang dari jauh dan telah berakar begitu kuat di sini. Mengucapkan kata China dengan Caina oleh karena itu tidak bermakna apa-apa lantaran maksud pengucapan kata itu belum tentu bisa dipahami secara merata dan sekali pukul di masyarakat kita.
Ambil contoh Jepang misalnya. Meski orang asing mengucapkannya sebagai Japan atau Japanese, orang Indonesia tetap pede menggunakan kata Jepang. Tak pernah terlintas dalam pikiran kita untuk mengucapkan Japan dalam dialog, tulisan maupun pemberitaan. Dan mengapa hal ini tak kita terapkan pula pada China dengan ucapan biasa yakni Cina (bukan Caina).
Banyak yang mengatakan bahwa lidah orang Indonesia memang paling lentur dan fleksibel. Sanggup beradaptasi dalam kondisi yang paling menukik termasuk keluwesannya dalam mengadopsi kata asing ke dalam wacana bahasa kita. Dulu kita sering mendengar kata cancel untuk menyebut pending atau tunda. Ada pula istilah Download yang padanannya adalah nggah atau unduh.
Lain Caina lain pula Pasca. Saya kadang berpikir enak benar orang mengucapkan Pasca dengan paska. Setahu saya (atau mungkin saya salah), kata Pasca tetap diucapkan sebagai pasca, tanpa k. Di mana mana saya dengar orang menyebut pasca dengan paska. Atau jangan jangan memang benar begitu. Pasca diucapkan dengan paska.
Jadi marilah kita beringgris ria..






Arsyad Salam, Arsyad, pemilik blog ini adalah seorang pembual. Senang menulis meski buta kaidah SPO. Senang main musik meski buta partitur angka apalagi not balok. Pemurah, baik hati dan tidak sombong. Tinggal di Kendari Sulawesi Tenggara
December 1st, 2009 at 12:32 pm
Setuju, Mas. Gejala inferiorisme poskolonial memang paling kentara terjadi di ranah bahasa, Mas. Dulu kita punya pak amien rais yang meski cerdas dan lucu (kecuali bagi para gusdurian), tapi amat gemar keminggris (ini artinya ke-inggris2-an, tapi dapat intrusi dari bahasa Jawa hehe). Sekarang? Presiden kita pun sangat hobi nyuplik istilah2 inggris, yang sebenarnya amat sangat bisa di-indonesiakan secara normal dan wajar.
dalam hal ini (catat: dalam hal ini), mungkin pak harto lebih konsisten dan konsekuen ya. meski boleh jadi itu karena pak harto nggak bisa ngomong inggris haha.
oya. kalau baca esai2nya Remy Silado yang mencela keminggris-nya orang Indonesia, dia pernah secara jelas mencela Fifi Aleyda penyiar Metro (sori ya mbak Fifi). Dia yg paling keminggris di antara semua presenter tivi
Dan entah kenapa, penyebutan Caina yang mas ARsyad tulis juga muncul di Metro.
Kebijakan Surya Paloh kah? Atau………. Mario Teguh (hahahahaha)
December 1st, 2009 at 12:33 pm
sori sambung lagi. btw, buku Pram yg itu apa masih beredar sih? penerbitnya apa tuh di pojok kanan atas kok gak kebaca?
December 7th, 2009 at 1:41 pm
saya ingin mengomenteri sedikit tentang pasca, boleh to mas !,
saya kurang tahu sejak kapan pasca atau paska masuk dalam kamus besar bahasa indonesia (edisi keberapa), tapi yg jelas masih banyak org indonesia termasuk saya sendiri yang beranggapan pasca bukan dari Indonesia, jadi tak salah toh kalau pasca di baca “paska”, apatah lagi pers yg seharusnya menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, namun ikut menjadi latah
December 10th, 2009 at 9:31 pm
mantap kunae…. lama tidak copy darat… kemana saja bro..
December 16th, 2009 at 11:41 am
Thank you! You often write very interesting articles. You improved my mood.
December 18th, 2009 at 2:27 pm
How can I make money from my Music Compositions?